Jumat, 04 Juni 2010

Karena Buku Harian, cerpen 11 Agustus 2006

“Cukup!”
Ibu berjalan menuju kamarku sambil menendang-nendangkan kakinya jika ada barang yang menghalangi jalannya. Seperti gorila mengamuk menurutku. Aku heran karena selama sehari penuh ini aku tidak melakukan kesalahan apa pun pada Ibu. Adikku,Yoshy Aga, dan kakakku, Gemma Nuraini, yang mengintip dari luar kamar membuatku tambah bingung karena kali ini mereka tidak memberiku petunjuk apa sebenarnya yang terjadi seperti biasanya. Seingatku, aku sudah mengepel lantai, membuat sarapan, menyetrika baju, merapikan kamar, memangkas rumput halaman, mencuci mobil, membersihkan semua sepatu, sampai mengangkat sampah-sampah ke belakang rumah. Menurutku semua sudah ku kerjakan dengan sempurna, apa yang kurang? Siksaan apa lagi yang akan ditambah Ibu? Apa?
“Aku!” terdengar teriakan Ibu dari ujung kamar dengan emosi yang tidak jelas memanggil namaku.
Empat tahun yang lalu namaku jauh lebih indah dari namaku sekarang. Diberikan oleh Ayah nama yang indah karena aku satu-satunya anak perempuan diantara tiga bersaudara di rumah. Katrine Ananda Maya namaku dulu dan panggilanku May. Aku ingat Ayah pernah menjelaskan bahwa Katrine adalah nama wanita yang kuat, Ananda artinya anak, dan Maya artinya sesuatu yang tidak jelas. Aku yakin Ayah hanya mengarang-ngarang saja dan Ayah pun mengakuinya. Tapi dari nama terakhirku, Maya, Ayah memberi tahuku bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu yang jelas. Ayah menginginkanku untuk selalu berusaha walaupun tujuannya tidak dapat dicapai lagi karena belum tentu semua hasil yang kita kira itu jelas. Perkataan Ayah selalu teringat di benakku, bahkan karena pesan Ayah ada pada namaku, Maya, sudah menjadi motto dalam hidupku. Namun sekarang namaku sudah diganti.
Semenjak Ayah jarang di rumah karena banyak dinas ke luar negeri dalam jangka waktu lebih dari empat tahun, Ibu mulai kehilangan kendali. Ibu mengubah semuanya. Namaku, sekolahku, perlakuannya padaku, kegiatanku, hidupku! Pada mulanya Ibu hanya bercanda pura-pura menjadi Ibu yang kejam dan menyuruhku melakukan semua pekerjaannya. Aku pun dulu hanya tertawa bersama Yoshy dan Nuraini menganggap Ibu aneh. Kami menganggap semuanya sebagai gurauan sampai akhirnya Ibu meluapkan amarahnya ketika dia mulai menganggap dirinya serius. Ibu mulai membuat peraturan-peraturannya sendiri dan memberi hukuman-hukuman berat khusus buat aku karena aku-lah yang paling nakal di antara kami bertiga. Ibu memberiku tugas-tugas rumah dan tidak membiarkan aku keluar rumah sebelum semua tugasku selesai. Ibu menarikku keluar dari sekolah dengan alasan bahwa aku anak yang tidak bertanggung jawab dan sekaligus untuk menghemat uang. Aku pasrah saja walaupun aku tahu adik dan kakakku masih meneruskan sekolah. Ibu membatasiku dalam berkomunikasi dengan teman-teman lamaku, menentukan tempat-tempat yang boleh aku singgahi, membatasi waktu aku bermain-main, dan menjual semua barang-barang favoritku.
Nama baruku adalah Aku Multatuli. Dipanggil Aku untuk menunjukkan, ya, aku. Dan kalau tidak salah, dalam buku pelajaran terakhir yang kubaca di perpustakaan sekolah, arti dari kata Multatuli adalah aku yang menderita. Ibu memberiku nama itu sebelum dia menjadi orang yang serius dan menegangkan. Sebelumnya Ibu tidak sungguh-sungguh memberiku nama itu karena itu hanya gurauan. Nama Aku Multatuli membuatku lupa sendiri dengan namaku yang sebenarnya semenjak nama panggilanku diganti selama beberapa tahun. Secara otomatis, aku melupakan pesan penting dari Ayah yang terdapat di nama asliku.
Aku mulai pasrah dengan tugas-tugas dari Ibu yang kian lama terus bertambah dan mengancamku untuk tidak dapat menemui Ayah lagi selama-lamanya jika aku melanggar peraturan-peraturannya. Aku pasrah, namaku Aku Multatuli, aku menderita. Aku tidak dapat berpura-pura lupa akan peraturan Ibu karena Ibu menuliskannya di kertas memo, papan tulis, buku agendanya, lemari obat-obat, di semua pintu bagian belakang, bahkan di mobilnya. Aku sangat takut untuk protes pada Ibu karena aku diperlakukan tidak adil oleh Ibuku di antara aku dengan yang lainnya. Mereka tetap mendapatkan pendidikan dan kegiatan belajar sehingga mereka tidak perlu mengerjakan tugas rumah karena mereka mendapat tugas dan PR dari sekolah. Begitu lelah, begitu menyiksa. Adik dan kakakku hanya bisa menonton, kalau salah satu dari mereka menolak peraturan Ibu terhadap aku, nasib mereka sama saja denganku. Mereka tak bisa berbuat apa-apa. Aku lebih tak bisa berbuat apa-apa. Jika aku berbicara dengan nada sedikit tinggi, sedikit saja, sudah ada hukuman tertulisnya. Tertulis di peraturan Ibu,”Aku berbicara dengan nada tinggihukuman pukul 5 kali”, dan keterangan di bawahnya,”menggunakan pemukul kasti.”
Tahun ini adalah tahun keempat sejak Ayah meninggalkan rumah. Sekitar yang keenambalasan kalinya aku dibawa ke rumah sakit darurat oleh Yoshy dan Gemma ketika aku pingsan setiap kali dikenai hukuman Ibu. Aku tak mengerti mengapa Ibu membiarkan Yoshy dan Gemma membawaku ke rumah sakit, bukankah aku akan menguras banyak uang? Tapi aku tak peduli lagi. Menurutku, Ibu membiarkanku ke rumah sakit agar aku dapat bekerja lagi dan dipukuli lagi. Sepertinya Ibu tak akan puas menyiksaku walau sampai ribuan kali memukulku. Ibu telah membuat badanku penuh luka memar dan luka berdarah. Aku sudah seperti maling yang habis dikeroyok warga. Aku tetap akan menunggu dan selalu berharap akan kepulangan Ayah untuk menyelesaikan masalah aku, dik Yoshy, dan kak Gemma dengan Ibu di rumah. Tak ada jalan lain lagi bagiku untuk selamat dari Ibu selain kembali pangkuan Ayahku. Setiap hari aku memimpikan kepulangan Ayah, namun setiap aku terbangun yang pertama terlihat adalah bekas pukulan Ibu dan gudang belakang yang sudah menjadi kamarku setelah ditambah tumpukan kayu yang ditutupi kain tirai lama sebagai kasur dan kumpulan kain bekas lainnya sebagai bantal.
Sunyi... Aku tahu aku anak tersiksa tapi aku bukan Cinderella. Cinderella punya peri, aku tidak. Cinderella punya nama indah, aku sudah lupa nama asliku yang juga indah. Cinderella memiliki banyak teman, aku tidak. Cinderella dijadikan pembantu, aku budak yang di cambuk. Satu nilai plus untukku hanyalah aku memiliki dua saudara kandung yang sangat perhatian denganku. Mereka tidak membiarkan sampah berserakan, kaca-kaca kotor, tumpahan minuman, kamar berantakan, dan banyak lagi di depan Ibu agar aku tidak dijadikan budak lagi. Hanya mereka-lah orang-orang yang dapat hadir untuk membantuku, menyayangiku, dan mengurus kesehatanku.
Kabar Ayah yang ditunggu-tunggu bertahun-tahun lamanya sudah tiba. Kantor Ayah mengirimkan surat laporan tentang Ayah. Aku tak tahu apa isinya, tapi aku sangat gembira memegang amplop bertujuan untuk keluargaku. Aku merasa baru kali ini aku merasa bernafas kembali setelah nama Ayah kembali ke lingkungan rumah. Air mata kebebasan bercucuran dari mataku dan aku tidak lagi merasakan pedihnya hidupku. Semua terasa lebih luas, lapang, tenang ,dan nyaman. Yang aku pikirkan adalah Ayah pulang. Tak ada yang lain.
“Ayah?”kataku saat menerima amplop yang Gemma bawakan bersama dik Yoshy dari kotak pos untukku ke kamarku.
“Kami ingin Aku ikut mendengarkan kabar Ayah sebelum Ibu”kata kak Gemma dengan suara lembutnya padaku sambil tersenyum kecil. Yoshy hanya mengikuti kak Gemma dari belakang dan langsung melompat kegirangan memelukku. Yoshy membuatku terduduk di atas kasur kayuku dan aku hanya tertawa kecil melihat tingkahnya yang lucu. Akhirnya mereka bisa berbagi rasa gembira padaku. Ayah memang penyelamatku. Sambil dipeluk erat oleh Yoshy, aku meminta tolong pada kak Gemma untuk membacakan surat kiriman dari kantor Ayah.
Dengan semangat aku berkata,”Aku siap menerima laporan kapan Ayah akan pulang. Aku siap. Tolong bacakan sekarang, Kak!”
Hatiku beredetak kencang, memikirkan apakah nasibku akan berakhir sebentar lagi atau memikirkan apa yang akan Ayah lakukan terhadap Ibu jika dia sudah melihat keadaanku. Mukaku membuat ekspresi tak menentu menunggu Gemma membuka amplop dan membacanya. Tapi Yoshy kecil membuatku merasa lebih tenang karena aku dipeluk olehnya.
“Kabar buruk” kata kak Gemma setelah membaca dengan suara pelan dan sedikit bergetar.
Kapalaku langsung naik dan melihat perubahan ekspresi kak Gemma. Aku berusaha untuk tidak menangis bersiap-siap mengubah semua pemikiran tentang Ayahku. Yoshy kecil menghampiri kak Gemma dan kemudian menangis sambil menutup matanya di pelukan kakak. Kak Gemma terdiam dan matanya semakin berkaca-kaca. Beku memegang surat laporan Ayah yang jaraknya hanya 1,5 meter dariku.
“Tidak apa! Bacakan saja!” kataku sambil tersenyum paksa mencemaskan Ayah.
Kak Gemma mendekatiku langsung memelukku dan menangis. Yoshy ikut memelukku juga.
“Kenapa, Kak? Apa yang terjadi? Ceritakanlah, Kak!”tanyaku kebingungan sambil tak kuat emosi menahan tangisku setelah melihat kakak.
Kakak membisikkan ke telingaku,”Aku, kuatkan dirimu ya!”kata kakakku yang umurnya mencapai 18 tahun dengan terisak-isak.
Umurku tak jauh beda dengan kakakku. Umurku sekarang 16 tahun. Dan adikku umurnya 9 tahun. Tapi kami sangat dekat. Jika ada diantara mereka yang bermasalah di sekolah, kami adakan curhat bersama. Walaupun kakakku lebih berpengalaman di luar, pesan-pesan lebih banyak datang dariku tentang yang namanya sabar dan hati yang kuat. Biasanya akulah yang paling tegar di antara mereka, tapi tidak hari ini.
Lalu kakak melanjutkan,“Ayah takkan pulang ke rumah”
“Maksud kakak?”aku mulai menangis.
“Maksudku, Ayah sudah meninggal dunia, meninggalkan kamu, kami berdua, Ibu, dan dunia ini selama-lamanya!”bisik kakakku yang suaranya tak terkontrol lagi dan menangis sekuat-kuatnya di pelukanku menyusul adikku yang sudah kelelahan menahan air mata yang membuat pipi tebemnya yang lucu memerah pekat.
“Ayah?”kataku memanggil Ayah yang sudah pergi.
Dan akhirnya aku luapkan semua menjadi orang yang paling cengeng dan terdengar manja di antara mereka.
“AYAH!!!”teriakku sekuat tenaga sambil menangis tak karuan kehilangan kendali dan prinsip bertahan.
Semua menjadi satu. Tangis ini semua untuk Ayah, kepedihan yang ku tahan sejak dulu, dan pemikiran nasibku ke depan. Meraung-raung untuk kehidupan yang lebih layak, jauh dari Ibu kandungku sendiri yang kejam dan sadis. Tubuhku semakin lemah, kehilangan cahaya kegembiraan kecil yang sebelumnya tumbuh saat menerima amplop tertutup dengan segel menunjukkan dari kantor Ayahku.
Kamarku, gudang belakang, terpisah jauh dari rumah. Jaraknya sekitar 9 meter dari rumah dan Ibu takkan dengar semua itu. Lagipula, Ibu sedang asik sendiri menelepon temannya, menggosip.
Kakakku keluar kamar dan langsung mengabarkannya pada Ibu. Aku dan Yoshy masih menangis di kamarku yang mungil dan sesak menunggu ekspresi Ibu.
Semua perkarangan rumah dan rumahku sendiri menjadi sunyi. Ibu menghentikan kegiatannya. Dan aku tidak dihukum untuk beberapa hari. Ibu berduka. Aku hargai Ibu, karena dia memberiku waktu istirahat hukuman. Dan beberapa hari setelahnya, semua kembali pada peraturan Ibu dan hukuman-hukuman untukku.
“Bruk!”suara Ibu membanting pintu kamarku sampai dinding kamarku bergetar setelah berlari menuju kamarku dan mukanya pucat.
Sampailah pada saat ini. Kembali dari masa laluku.
“Apa ini?!” Ibu menunjukkan sebuah buku tak bersampul yang berupa kumpulan kertas-kertas coretan dan disatukan dengan tali sepatu bekas. Muka Ibu merah dan ada sedikit air di tepi matanya. Buku diariku. Ini sesuatu yang janggal. Biasanya Ibu datang membawa tongkat bisbol Ayah yang sekarang menjadi senjata favoritnya untuk memukulku jika aku melupakan tanggung jawabku. Dan sekarang Ia datang dengan diariku.
Aku tak ingat sama sekali dengan isi dari buku diariku. Kata Ibu ia menemukannya di kamarku dulu.
Kubuka isinya dan yang terbaca olehku,” Peraturanku, satu pukulan dari IbuAku benci Ibu 10x!” dan yang lainnya,”Ahh! Ibu membuatku tersiksa! Ibu memang orang jahat! Tak berperasaan!”dan seperti itu sisanya. Aku ingat, ini adalah diariku selama 2 tahun sejak Ayah pergi dinas. Semua tentang Ibu jahat, kakak adik yang baik, dan kangen Ayah. Aku kira Ibu akan mengambil tongkat kasti Ayah untuk memukulku, lagi. Tapi Ibu menunjukkan halaman yang tak terbaca olehku di halaman terakhir sebagai penutup.
Tertulis,”Aku yakin Ibu tak akan pernah tega melakukan semua ini tanpa alasan. Aku yakin Ibu bermaksud baik. Aku memang anak yang nakal. Seharusnya aku tak pernah nakal. Ibu memang selalu menyiksaku, tapi aku juga yakin ia sangat sayang padaku. Aku memang pernah menganggap Ibu sakit jiwa, kalau itu memang benar, akulah yang harus menuruti Ibu, mengurusnya, dan menyayanginya” dan kalimat terakhir, “kalau bukan Aku Multatuli, SIAPA LAGI?”
Di saat itulah Ibu memberikan pelukan penuh kasih sayang yang membuatku kebingungan.
“Terima kasih, nak! Maafkan Ibu! Selama ini. Empat tahun, Ibu bertingkah aneh. Katrine Ananda Maya sayangku, itulah namamu yang sebenarnya, Nak!”sambil memelukku,”kamu telah manjadi anak yang begitu kuat dan tak menyerah menghadapiku. Aku mohon padamu, May, maafkan Ibu.”
Ibu minta maaf. Yoshy dan Gemma memasang senyuman lembut sebagai tanda semua akan kembali seperti semula. Aku anak yang tidak nakal, aku anak yang sabar, dan anak yang kuat. Dan aku, Katrine Ananda Maya, telah mengingat semua yang pernah kulalui, tanpa Ayah, dengan pesan-pesan penting untuk hidupku. Terimakasih Tuhanku, terimakasih Ayah, terimakasih Yoshy dan Gemma, dan yang terakhir, terimakasih Ibu yang tercinta.
Tamat.

1 komentar:

Yudha Prisnanto mengatakan...

nangis beneran..
walaupun air mata ga kluar..
tetep aja pengen nagis..