Bagaimana perasaanmu saat melihat jarus detik terus berjalan, terutama pada jam tanganmu? Menyenangkan? Terlalu lambat? Atau cepat? Membuatmu tegang? Membuatmu bosan? Banyak yang dirasa. Padahal kita semua tahu, itu hanyalah jarum detik yang digerakkan motor kecil, sebuah mesin berbaterai. Kecil, namun sangat berarti bagi makhluk-makhluk bumi ini, terutama manusia. Setiap detik, tentu ada sebuah kisah.
Aku tak habis pikir, tak dapat mengerti. Nasib hidupku berujung sedih. Mungkin, hanya beberapa detik saja sisa waktu yang kupunya. Setiap detiknya juga dapat kurasakan detak jantungku yang melambat. Pandanganku hanya samar-samar. Sedikit bisa mengintip, orang banyak berlarian, sepertinya ribut, aku tak tahu pasti. Lampu merah biru berkedip-kedip di dekatku dan badanku seperti melayang. Sungguh aku berharap bahwa aku bisa terbang, tapi ternyata aku diangkut masuk ke dalam kendaraan berlampu merah biru itu, ternyata sebuah ambulance. Nafasku tak teratur. Jantungku juga tidak. Tidak ada yang teratur. Tubuhku sudah bersimbah cairan merah dan merasa sangat lemah. Aku tak dapat bergerak. Aku hanya bisa merasakan sakitnya.
- Sakit -
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku begitu riang dengan semua ini. Bahagia, senang, happy, excited, semuanya deh! Ibu pulang bertugas dari Singapura akhirnya. Semenjak kemarin malam setelah mendapat berita ibu mau pulang, aku senyum sumringah gak karuan gak tertahankan. Kesana-kemari juga sambil jingkrak-jingkrak. Ayah hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkahku yang kekanak-kanakan. Aku sudah tak peduli, walau usiaku sudah kepala 2, aku hanya ingin cepat bertemu Ibu. Rasanya sudah hampir 5 tahun Ibu meninggalkan kami di tanah air. Kata Ayah, Ibu adalah orang penting dalam penyelamatan dunia. Aku tak terlalu mengerti bagaimana Ibu menyelamatkan dunia tanpa baju tentara atau tanpa kegiatan menanam pohon. Terakhir kali aku mendapat kiriman video Ibu sedang kerja, yang kulihat hanyalah Ibu berbicara di depan orang banyak. Meja ditengah itu bentuknya melingkar mengelilingi semua pendengarnya yang siap berebut ingin cerita seperti Ibuku. Tidak bisakah mereka bersabar? Biasa pada akhir bahasan akan diakhiri dengan tepuk tangan, hanya bagian itu yang kusuka. Selainnya, mengerti bahasa bule saja tidak. Jadi, tak bisa aku putuskan bahwa aku menyukai pekerjaan Ibu atau tidak.
Senang sekali, sebentar lagi, pukul 12.45 pesawat akan turun di bandara ini dan Ibu akan melangkah keluar dari pintu 'kedatangan'. Baju rapi, rambut tersisir, bunga untuk Ibu, cek! cek! cek! Di kepalaku membayangkan checklist yang sudah komplit. Sempurna. Sebentar lagi, beberapa detik lagi.
- Sebentar lagi -
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
bersambung...
"Clock" , Sumber: dokumentasi pribadi
------------------------------------------------------------------------------------------------------------Aku tak habis pikir, tak dapat mengerti. Nasib hidupku berujung sedih. Mungkin, hanya beberapa detik saja sisa waktu yang kupunya. Setiap detiknya juga dapat kurasakan detak jantungku yang melambat. Pandanganku hanya samar-samar. Sedikit bisa mengintip, orang banyak berlarian, sepertinya ribut, aku tak tahu pasti. Lampu merah biru berkedip-kedip di dekatku dan badanku seperti melayang. Sungguh aku berharap bahwa aku bisa terbang, tapi ternyata aku diangkut masuk ke dalam kendaraan berlampu merah biru itu, ternyata sebuah ambulance. Nafasku tak teratur. Jantungku juga tidak. Tidak ada yang teratur. Tubuhku sudah bersimbah cairan merah dan merasa sangat lemah. Aku tak dapat bergerak. Aku hanya bisa merasakan sakitnya.
- Sakit -
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku begitu riang dengan semua ini. Bahagia, senang, happy, excited, semuanya deh! Ibu pulang bertugas dari Singapura akhirnya. Semenjak kemarin malam setelah mendapat berita ibu mau pulang, aku senyum sumringah gak karuan gak tertahankan. Kesana-kemari juga sambil jingkrak-jingkrak. Ayah hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkahku yang kekanak-kanakan. Aku sudah tak peduli, walau usiaku sudah kepala 2, aku hanya ingin cepat bertemu Ibu. Rasanya sudah hampir 5 tahun Ibu meninggalkan kami di tanah air. Kata Ayah, Ibu adalah orang penting dalam penyelamatan dunia. Aku tak terlalu mengerti bagaimana Ibu menyelamatkan dunia tanpa baju tentara atau tanpa kegiatan menanam pohon. Terakhir kali aku mendapat kiriman video Ibu sedang kerja, yang kulihat hanyalah Ibu berbicara di depan orang banyak. Meja ditengah itu bentuknya melingkar mengelilingi semua pendengarnya yang siap berebut ingin cerita seperti Ibuku. Tidak bisakah mereka bersabar? Biasa pada akhir bahasan akan diakhiri dengan tepuk tangan, hanya bagian itu yang kusuka. Selainnya, mengerti bahasa bule saja tidak. Jadi, tak bisa aku putuskan bahwa aku menyukai pekerjaan Ibu atau tidak.
Senang sekali, sebentar lagi, pukul 12.45 pesawat akan turun di bandara ini dan Ibu akan melangkah keluar dari pintu 'kedatangan'. Baju rapi, rambut tersisir, bunga untuk Ibu, cek! cek! cek! Di kepalaku membayangkan checklist yang sudah komplit. Sempurna. Sebentar lagi, beberapa detik lagi.
- Sebentar lagi -
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
bersambung...



