Waktu singkat, nyimak singkat, masuk singkat..
Setelah tidur balas dendam dengan total 10 jam sedari pukul 20.00 sampai 06.00 pagi, badan yang masih lesu ini beranjak bangun dan dengan kecepatan kilat bersiap mandi dan membawa seperengkat alat sholat menuju lapangan parkir RSGM Sekeloa. Sempat terjatuh dari tempat tidur karena kaki kiri ternyata masih mati rasa, jadi melantai agak 5 menit. Belum juga memutuskan pakaian yang dipakai dan berberes kamar. Ujung-ujungnya pakai baju santai saja dan kamar ditinggal berantakan. Yah, daripada telat atau mungkin nggak dapat sholat Id, mending ditinggal dulu. Dari kosan langsung jalan cepat ke lapangan. Jaraknya tidak begitu jauh, sekitar 100 meter. Jalan 1 sampai 2 menit juga sampai. Sambil jalan baru teringat nggak bawa koran. Suara hati bilang, biar aja yang penting datang saja dulu ke lapangan. Dan benar, sampai di lapangan ketemu teman kampus yang juga sendirian. Aku duduk sebelahnya beralaskan tas jinjing yang di atasnya dibentang sajadah sholat. Ibu-ibu sebelahku melihat aku tidak membawa koran dan langsung menawarkan untuk memakai korannya yang tidak ia pakai. Alhamdulillah, dengan senang hati ku terima. Dengan ekspresi bahagia, aku berdiri lagi dan memasangkan koran di bawah sajadah. Barulah tak lama setelah itu, sholat Id dimulai dan aku segerakan memakai mukena. A very nice pray since there are no children running around without their moms' company.
Setelah sholat 2 rakaat itu, aku mendengarkan kutbah. Tidak terlalu jelas karena posisi berjauhan dengan speaker. Bahkan aku tak tahu dimana letak speaker. Hanya sedikit yang dapat kudengar, yaitu tentang kisah nabi Ibrahim. Kemudian ada sedikit yang menyinggung soal jabatan. Ini menarik, karena disini aku merasa tertohok. Ceramah yang tepat untuk diberikan kepadaku di waktu yang tepat pula.
Ada sebuah cerita yang mengisahkan seorang teman Rasulullah SAW mempertanyaan beliau mengapa ia tidak mendapatkan suatu jabatan. Rasulullah SAW menjawab, mengap atak dapat jabatan? Wahai sahabat, engkau begitu lemah, bagaimana engkau dapat memegang jabatan itu? Maksud dari kisah singkat ini, suatu jabatan bukanlah titel yang gampang didapat dan dipertanggungjawabkan. Ya, tanggung jawab. Itulah yang tuntutan dari sebuah jabatan, bila didapat, maka harus amanah. Jabatan itu dapat memberikan pahala, dapat juga memberikan dosa. Sehingga kita juga harus berhati-hati dalam memilih memegang suatu tanggung jawab. seseorang denga jabatan harus bekerja sebaikmungkin untuk memenuhi tugasnya dalam memegang suatu jabatan. Sehingga kehadirannya dapat terasa bermanfaat bagi orang lain dan bukan merugikan siapapun dan pihak manapun.
Terbayang olehku amanah-amanah yang banyak ku pegang. Sedikit menyesal menyadari kerakusan diri mengikuti berbagai kegiatan. Orang boleh bilang aktif, tapi menurutku, sekarang tidak efektif. Menjadi seseorang multi talenta memang impianku. Multi-tasking pun wajib ku jalani sebagai pilihan hidup sebagai mahasiswi. Begitu banyaknya sehingga aku hampir lupa diri dengan amanah-amanah yang kupegang. Sedih rasanya. Tanpa tolak ukurapapun aku juga tau bahwa diri ini sudah miss dengan banyak hal penting dalam proses kerja. Dari yang besar, hingga yang kecil. Lambat laun kelalaian itu mulai membuahkan hasil negatif. Kinerja yang tidak memuaskan, reminder dengan pesan pengingat 'tajam', hasil akhir yang menggantung, ketiadaan diri untuk hadir sebagai pemegang amanah. Sungguh menyedihkan.
Aku tau ceramah itu untuk semua umat yang berada di lapangan. Tetapi juga terasa seperti khusus buatku. Alhamdulillah, mungkin juga teguran langsung dari Allah SWT. Kutbah yang simple namun tepat buatku. Another different day of Eid. Perubahan.Perubahan. Perubahan.
Harus merapikan kembali kegiatan sehari-hari dan merapikan diri untuk bersikap lebih dewasa, lebih professional. Boleh jadi seseorang multi talenta, tapi bukan mengabaikan segala kegiatan yang sudah ada. Bila memiliki amanah itu, kudu wajib harus banget pisan sekali, it's a must, bertanggung jawab sepenuh hati untuk menjalankan amanah tanpa rem berhenti.
Untuk teman-teman yang membaca, semoga dapat mengambil hikmah. Untuk yang berlalu jangan hanya sekedar berlalu, tetapi diambil pelajaran untuk menjadi pribadi lebih baik ke depannya. Cukup aku yang jatuh di lubang perangkap ini, semoga teman-teman lebih berhati-hati dalam melangkah. Aku sedang mendaki kembali membuat tangga yang lebih kokoh untuk mencapai pribadi bintang lima. Haha!
Canggih ya. Ayo kejar mimpi dan menjadi orang yang lebih baik jiwa dan raga.
Oiya, kalau untuk menjadikan raga lebih baik dan sehat, teman yang ada di Bandung bisa ikutan lari bareng IndoRunners! Hahaha (nambah temen)...kalau saya milih ikutan lari pas weekend ke Sabuga. Kalau ada yang mau join, datang langsung ke lokasi biasanya jam 6.30 wib.
Selamat Hari Raya Idul Adha 1433 Hijriah. Semoga berkah, kurbannya diterima, ibadahnya diterima, dan pantang menyerah untuk merubah diri menjadi lebih baik..Aamiin