Rabu, 05 September 2012

Kosong

Selembar kertas kosong. Dilipat. Dilempar. Tertiup angin. Dengan langit biru dan matahari di belakangnya membuat kertas ini terlihat berwarna hitam. Sesekali kertas ini melayang menutupi cahaya matahari. Terbang tinggi dan turun lagi. Terus saja ia jatuh, pasrah pada keadaan.


Tibalah si kertas kosong di atas atap sebuah rumah. rumah yang dahulu ia tempati. Sebagai kertas, ia hanya bisa mengingat. Sebelumnya, tak begitu lama, ia tidur bertumpukan bersama 499 lembar saudaranya. Terbungkus rapi dan elegan, berbahan plastik yang memiliki merk terkenal. Lahir dari pabrik kertas paling laku di kota. Bahkan saudara jauhnya juga tersedia dalam berbagai ukuran dan ketebalan. Sangat hebat rasanya menjadi kertas, pikirnya.

Satu yang hampir ia lupakan. Orangtuanya. Tentulah bukan pabrik, pabrik hanya sekolah baginya. Lupa apakah ia datang dengan sukarela atau dengan paksa. Sambil menyusuri masa lalu, si kertas kosong mendapati dirinya dahulu dalam keadaan gelap gulita dan sedikit cahaya. Cahaya kecil yang semakin lama semakin besar. Dari cahaya yang menyenangkan menjadi cahaya yang menakutkan.

Sungguh aneh bagi selembar kertas yang bersedih, ingin menangis tapi tak bisa. Namun cuaca mengerti hatinya. Saat itu juga awan gelap muncul. Sedikit gemuruh terdengar seperti mencurahkan geramnya isi hati si kertas. Lalu turunlah hujan. Gerimis. Dan hujan lebat.

Manusia sahabatnya. Pikirnya. Tapi itu dulu.

Cucu dan cicitnya manusia itu tak lagi peduli pada keluarga besar kertas. Kalau saja ayah, ibu, kakek, nenek, dan moyangnya si kertas tau masa depannya akan begini, pasti manusia sudah dimusuhi. Tapi sekarang yang hidup tersisa hanya sedikit. Sekarang hanya bisa mengandalkan alam untuk memusuhi manusia. Pohon, ya, pohon orangtua dari si kertas kosong.

Kertas kosong yang kesepian. Cukup tau. Masih mungkinkah manusia masih sayang padanya dan keluarganya yang tersisa? Ada. Sedikit. Komunitas pencinta lingkunganlah yang berhasil menyelamatkan beberapa orangtua dan saudaranya. Semoga seluruh manusia saja yang jadi pecinta lingkungan, pikirnya. Kalau tidak, sepertinya tidak ada masa depan yang baik, buat keluarga besar si kertas kosong ataupun manusia itu sendiri.

0 komentar: