Jumat, 04 Juni 2010

Bintang, cerpen 28 November 2007

Malam yang indah. Alia benar-benar menikmati langit malam ini. Bintang berserakan, berbinar dan meramaikan penglihatannya. Berat baginya melepaskan keindahan langit malam saat ini. Dia hanya duduk di teras rumahnya, dan melihat keatas, tak henti-henti. Alia menemukan titik tenangnya di tengah amukan hati. Dia hanya bisa diam. Sedikit senyum di bibirnya.
Kembali ke masa lalu Alia. Alia yang ceria, bermain dengan apa saja. Bercanda, kejar-kejaran, main petak umpet, apa saja. Sewaktu kelas satu SD, masa-masa hanya mengenal sedikit belajar dan banyak bermain.
“Alia jelek!” suara memanggil dari ujung lapangan SD.
“Hei! Seenaknya! Sini kalau berani kura-kura tua!” balas Alia.
“Kura-kura tua? Hei, nggak ada yang lebih jelek dari itu, monyet dufan? Hwahaha!” balas teman aneh baru Alia.
“Huh! Sebel! Awas lo ya!” ancam Alia.
Rutin. Setiap hari memang cuma itu kerjaan Alia dengan teman barunya, Davis. Tiada hari tanpa mengejek dan berantem. Yang jelas, Alia selalu kalah dan ngambek. Nantinya Davis yang tertawa penuh kemenangan dan akhirnya minta maaf sama Alia.
Akhirnya Alia hanya bisa senang dapat teman seperti Davis, jahat-jahat bisa baik juga. Tapi harus sabar dulu nunggu dia jadi baik, banyak pelitnya. Pelit jadi baik, ah, yah gitu la.
Nggak lama Alia suka sama Davis. Alia nggak peduli kalau kena hukum bareng Davis, yang penting bisa gila-gilaan bareng Davis. Asal ada dia, Alia fun-fun aja. Senang selalu. Biasa, anak kecil.
Alia hanya bisa terkejut mendengar Davis bilang kalau dia pindah ke luar kota. Saat itu mereka sudah kelas tiga SD. Alia terdiam. Alia ditinggalkan. Alia nggak bisa menemukan teman seperti Davis. Teman yang jahat-jahat, baik. Teman gila-gilaan bareng. Sekolah menjadi membosankan. Alia tak lagi se-semangat biasanya. Mencari teman baru, susah. Anak SD kan pertama kali yang ingin ditemuinya di sekolah adalah teman-temannya, bukan buku pelajaran.
Alia saat ini tidak SD lagi. Ia sekarang sudah SMA. Mengenang memori masa lalu hanya bisa membuahkan senyuman kecil walaupun hati terasa pedih. Alia mengayunkan kakinya di atas bangku teras. Menghilangkan jenuh. Menunduk sebentar dan kembali menatap langit malam.
SMP kelas satu. Alia tidak menemukan teman seru seperti Davis. Tapi walaupun beda, Alia merasakan hal yang sama di hati. Ya jelas, Alia suka temannya yang satu ini. Elang panggilannya. Elang teman Alia yang pengertian, perhatian, dan semua yang serba baik. Nggak pernah ngecewain Alia. Sampai pada akhirnya, Elang meninggalkan Alia seperti Alia ditinggalkan Davis saat kelas tiga SMP. Sedih. Alia ingat terakhir kali sewaktu Elang pamit sama Alia.
“Alia, aku pingin nerusin sekolah ke luar kota. Pingiiin kali,” kata Elang,” di sini nggak ada serunya Al, bosen juga sekolah di sini terus, orangnya gitu-gitu aja. Monoton Al”.
“Lang serius? Jangan bohong ah!”
“Nggak Al aku serius! Aku pingiiin banget sekolah ke luar kota. Aku tu pingin banget ngerasain suasana di luar sana. Pasti beda banget dengan di sini. Terus, orang-orang di sana pasti beda-bedanya lebih bervariasi”.
“Serius?”, dengan sedikit lesu,“terus, aku gimana? Tega kamu Lang! “
“Nah, emm, itu dia, nggak apa kan? Aku tau aku jahat banget kali ni sama Alia, tapi aku memang pingin banget sekolah di luar sana Al” balas Elang.
“Sepi lagi deh. Hiks! Ya udah, kalau Lang memang maunya begitu, aku nggak maksa Lang di sini kok. Elang udah baik banget sama aku. Masak aku nggak bisa baik sama Elang?” lanjut Alia dengan suara sedih.
“Makasih Al, aku nggak akan ngelupain Alia. Maaf ya aku mendadak gini? Aku juga yang salah sih nggak bilang dari dulu. Aku maunya jadi surprise aja. Biar Alia nggak sibuk sendiri. Maaf ya Al?”
“Iya. Nggak apa kok. Santai aja lagi. Tapi betul ya, jangan lupain aku!”
“Iya, aku berani janji!”
Itulah percakapan terakhir Alia dengan Elang tepat di teras rumah Alia juga. Hmph! Ribet juga ni suasana.
Masa-masa sekolah terasa amat cepat. Sempat Alia nggak ingin punya teman sedekat Davis atau Elang lagi. Bagi Alia, itu hanya bisa menyiksa batin Alia yang akhirnya ditinggalkan lagi.
Nasib berkata lain. Alia mendapat teman baru. Saat ini yang dipikiran Alia adalah, belum ditinggalkan. Tapi Alia akan berusaha untuk bertahan kalau nantinya kejadian lagi. Sedih, pasti. Tapi Alia tak mau lagi terlalu membebani diri dengan hal-hal itu. Alia sudah bosan.
Kembali kepada bintang-bintang.
“Bintang, kalau nantinya teman baruku sama saja dengan Davis atau Elang, bintang temani aku lagi ya! Di malam yang persis sama. Cerah dimana aku bisa menatapmu dengan jelas. Terangi aku bintang! Supaya aku senang lagi. Supaya aku dapat teman baik lagi. Supaya aku bahagia. Aku nggak tau lagi mau memalingkan pandanganku selain melihat keindahan langit malam ini” kata Alia sambil menatap bintang dan tersenyum kembali.
Diam. Sendiri menikmati apa adanya. Seadanya. Apa saja. Seperti dahulu, sewaktu kecil.
Bintang, oh, bintang. Temanku. Mataku. Jiwaku. Haruku. Memoriku. Kuatku. Sahabatku.

0 komentar: