“Hiks! Nggak! Nggak mungkin! Itu tiga tahun yang lalu!” teriakku.
“BLAM!”
Tersentak. Ibu menerobos ke kamar dengan membanting pintu kamarku. Fuh, akhirnya aku terbangun dari mimpi burukku.
“Di, kamu nggak apa kan? Kok pake teriak-teriak segala? Kenapa kamu sampai keringatan gitu? Kan AC nya hidup?!”
“Eheh, halo bu!”, mata masih mengantuk sambil meringis,”nggak kok bu, biasa, ngigau”
“Didi, kamu ni ada-ada aja. Yu no la! Aim seteressed aut ni! Lain kali ngigau lihat-lihat waktu! Tu..tu..lihat tu jam brapa skarang.. tiga o’clock hannyyy!!!”
“Nnngg?? Ibu ni bikin Didi tambah pusing aja. Udah ngomongnya maksa campur-campur dengan inggris, trus ngigaunya disuruh lihat waktu..kayaknya ibu deh yang ada-da aja?!”
“Yawdah! Terserah aja la, nak! Tidur lagi sana. Aim veri slipy” lanjut ibu, masih maksa.
“BLAM!”,pintu kembali dibanting.
“Buset..ibu ni nggak niat nge-cek kali ya? Ah, udah ah!..ZZzzzzZZZzzz..” dan ngigauku pun dilanjutkan bersama mimpi buruknya.
Aduh. Aku nggak tau sampai kapan ni mimpi buruk berakhir. Aku tu dah suntuk, bete, bosan, de-el-el yang sama dengan itu. Dari dulu, dari kecil, sampai sekarang dapetnya mimpi buruk, nggak ada enaknya. Kalau aku tidur jam sembilanan, ntar tu mimpi buruk datang sendiri trus ending-nya terbangun lebih kurang dua jam sebelum subuh, nyebelin nggak tu? Ini mimpi nggak Cuma mengganggu tidurku, tapi juga mengganggu hidupku! Bawaannya jadi nggak pernah tenang gitu. Tau de javu kan? Seperti kejadian yang terulang lagi, kira-kira gitu lah artinya. Soalnya setiap aku mimpi buruk, selalu ada aja yang buruk bakal terjadi persis seperti di dalam mimpiku. Nah, untuk menghilangkannya, aku punya taktik tidur baru. Caranya jangan tidur sebelum jam 12 malam. Why? Karena lewat dari jam segitu, produser film mimpi buruk di otakku nggak bakalan produksi lagi, dia udah aku buat kecapean. Sayangnya ibu selalu memastikan aku sudah tidur atau belum sebelum jam 12 itu. Hah! Mimpi buruk sudah membuatku gila!!!
Namaku Didi Aldires. Cewek berumur 16 tahun, duduk di bangku SMA kelas X. Tentang mimpiku tadi, ya, memang ada kejadian sewaktu aku masih SMP. Kalau dipikir-pikir, yah, siapa sih yang nggak trauma kepalanya bocor dan darahnya berserak di lantai? Itu sih menurut aku. Semenjak kejadian itu aku menjadi sangat hati-hati kalau berkegiatan. Namun usahaku selalu sia-sia. Katakan saja aku orang yang ceroboh karena memang itu aku seadanya. Semua kecerobohan sudah biasa olehku, hanya saja masih kurang bisa menerima kesalahan kecil yang sangat sepele itu, karena aku yakin seharusnya aku bisa menghindar. Seharusnya.
Kecerobohanku menjadi tak terhitung lagi semenjak aku mengenal arti kata ‘ceroboh’. Aku ingat sekali sewaktu kecil aku membuka kamus karena banyak orang bilang aku ceroboh. Artinya, ya tidak hati-hati. Aneh memang, seharusnya lebih berhati-hati lagi. Tapi, seperti yang aku bilang sebelumnya, sia-sia. Aku biarkan semua mengalir begitu aja. Akan lebih capek lagi kalau aku tetap memikirkannya.
“Halo?? Didi, eni badi hom?” pertanyaan yang memaksa. Sesuatu yang amat menyiksa dan merusak pelajaran bahasa Inggris dan Indonesia yang seharusnya menempel dengan baik di kepalaku, jikalau tidak ada yang begitu ‘JENIUS’ untuk merusaknya dengan kombinasi kata-kata tersebut.
“Bu, iya aku bangun. Tapi jangan maksa lagi dong bahasanya! Nggak tenang ni jadinya” jawabku.
“Hmm..iya deh yang lebih pinter ..namanya ibu juga usaha..”
“Ng..Nggak gitu maksud Didi, bu! Nggak apa kok kalau ibu pake bahasa Inggris, tapi jangan dijadiin es cendol campur milk shake dong! Aku nggak suka, nggak enak bu!” terangku.
“Hehe! Nggak kok, ibu bercanda, ibu ngerti kok maksud kamu. Udah sana, siap-siap sekolah”
Untung aja ibu orang yang pengertian. Bisa gawat kalau nggak.
Di sekolah, kembali teringat tentang mimpi buruk semalam. Nggak bisa aku cuekin. Nggak seperti biasanya aku nggak bisa ngelupain mimpi buruk. Hari ini aku lebih hati-hati dan waspada oleh gerak-gerik teman-temanku dan aku sendiri. Aku nggak mau kejadian dulu terulang lagi. Dulu memang karena aku ceroboh, kali ini aku nggak mau itu terulang lagi.
Setelah lama, akhirnya sampai jam istirahat aku masih selamat. Aku senang, bahkan kelewat senang. Aku kira aku berhasil melawan kenyataan yang berasal dari mimpiku, sampai-sampai aku melupakan untuk tetap hati-hati.
“Emm..nyam..nyam…ffufufft…POP!” permen karet dalam mulutku dan meledakkan balon.
“KRIING!KRIING!KRIING!”
“Whoi! Udah lonceng tuh! Buang tu permen, udah masuk lagi” kata seorang temanku.
Aku mendapati ada sebuah basket sampah di sebelah papan tulis. Sebenarnya aku sudah ngeri sendiri karena letaknya di bawah pinggiran papan yang ujungnya besi tajam. Tapi aku nggak punya waktu lagi untuk mencari tempat sampah lain, lagian badanku sudah terasa bergerak sendiri mengarah ke basket sampah itu.
“Please jangan di sana! Cari tempat lain aja Di! Bahaya! Kamu tu ceroboh!!” aku bergumam-gumam sendiri.
“PLEK!” aku menundukkan kepala membuang permen di mulutku. Dan kemudian aku berdiri.
“JJREEKK!!!” terdengar jelas olehku dan memang terasa ada yang menggores kepalaku. Setelah kuraba, MEMANG BENAR! Ah, nasib. Ceroboh forever!!
Aku stres, tapi karena nggak ada darah keluar aku cuekin aja. Masih sambil stres.
“Rini”,kataku memanggil teman di bangku belakang,”coba lihat ke kepalaku, ada darah nggak?” tanyaku penasaran.
“Hah? Darah? Emangnya kamu habis ngapain sampe berdarah gitu?”
“Iya tuh, tadi tergores ujung papan tulis”, dengan nada cemas,”ada nggak?!”
“IH!! Iya Di! Di, tutupin cepat!”
“Hah???!!!”
Aku ambil sapu tanganku dari tas ransel dan langsung menutup lukaku di kepala.
“Udah, kamu permisi aja dulu Di! Cek dulu lukamu! Bahaya Di!” kata Rini cemas.
“Eng..gimana ni, kita lagi ujian..”
“Ah lupain aja. Kalo kepalamu ada apa-apa gimana bisa mikir lagi Di? Udah ah pasti diizinin guru. Keluar dulu sana!” kata Rini memaksa.
Aku nurut.
“Ehm..Pak, permisi pak..eee...anu..ini kepala saya, hehe, ada itu pak, bocor pak..” kataku polos kepada guru kelas.
“Yah, cepetan aja sana! Kok pake lama?” jawab guruku.
Sebenarnya aku juga heran kenapa tadi nggak langsung ngomong cepat. Tapi, ya sudah la. Nggak penting. Aku berlari memeriksa lukaku di WC cewek. Ternyata tak separah dulu. Aku pun sedikit lega. Memang ada rasa sedikit pusing, tapi setidaknya aku masih selamat. Fiuh! Syukur lah..
Setelah menghabiskan waktu di WC cewek memastikan lukaku tidak membesar, aku putuskan kembali ke kelas. Tapi aku tak bisa lagi melanjutkan ujianku, aku tak bisa berpikir dengan baik saat itu.
De javu. Seenaknya datang dan membawa kata-kata ‘Yang terjadi, terjadilah!’. Begitu mengganggu. Bete! Suntuk! Bosan! Cape deh..
Sampai sekarang aku masih memakai taktik tidur larut malam. Tambahannya supaya taktiknya lebih mantep, aku pura-pura tidur di depan ibu. Dan saat ibu masuk ke kamarnya, aku bangun lagi, hehe! Takutnya de javu lagi kalo dapat mimpi buruk, udah sering kali rasanya. Jadi, jangan paksa aku tidur. Bubye de javu!
Jumat, 04 Juni 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar